Bagian Kelima

                Jack terbangun. Tangan kanannya seperti ada rasa nyeri di persendiannya. Ah! Tangannya tak bisa digerakkan. Sebelum ia melihat apa yang terjadi pada tangannya, Jack tak mengenali tempat ini.



                Ia berada di sebuah gubuk mirip seperti pos ronda. Tempatnya padat tapi tertata rapi. Ini seperti sebuah rumah kecil. Siapa yang tinggal di tempat seperti ini? Ia melihat arah luar pintu yang terbuka. Disana ada punggung seseorang. Sosok itu membelakangi Jack. Mungkin dia adalah pemilik gubuk ini.

                “dimana aku…” Jack berbicara supaya orang itu menoleh padanya. Supaya orang itu tau Jack sudah siuman.

                Orang itu tetap tak menoleh. Jack mengernyit.

                “dimana akuuu~” Jack meninggikan suaranya bahkan ditambah dengan irama.

                Orang itu masih tidak menoleh. Sedang asyik apaan sih dia?

                “EHEMM!! DIMANA AKU YAAA?? YA ALLAH DISINI SEPI BANGET YAAAA WYYUUUUHH” Jack benar2 tidak sabar.

                Sosok itu seperti kaget, tapi ia kembali menghiraukan suara Jack.

                “ampun dah ni orang asem juga” Jack sudah kesal.

                “Oh jadi kau sudah siuman?” Tanpa menoleh, orang itu berbicara. Kemudian ia melepaskan headset dari kedua telinganya. Ia berdiri. Tampak di depan orang itu, pas di atas tanah ada Laptop yang menyala. Rupanya ia sedang menonton Anohana.

                “hiks… Syukurlah kau sudah siuman… Hiks” Orang itu menoleh. Ia menangis. Mungkin karena
Anohana. Ia berkali-kali menghapus air matanya dan ingus yang hampir terus keluar dari hidungnya.

                “aku punya berita baik dan buruk, pemuda, kau pilih yang mana?” Orang itu duduk disamping Jack yang sedang terlentang.

                “Baiklah ini pilihan sulit, tapi aku memilih kabar buruk dulu” Jack tak mau ketika ia mendengar kabar baik terlebih dahulu, nanti ia akan lebih kaget ketika mendengar kabar buruk. Lebih baik kabar buruk dahulu, lalu bisa diredam dengan kabar baik.

                “Kabar buruknya, kau kehilangan tangan kananmu di tabrakan tadi”

                “APA?!” Jack mengangkat tangan kanannya. Hanya luka lecet.

                “Kabar baiknya aku berhasil menipumu~ Eaaaaa” Orang itu tertawa lepas.

                “Namaku Kotak, aku yang menyelamatkanmu tadi”

                Jack teringat akan tugasnya menjemput Tipa di SMA. Tapi dia tidak melihat motor disitu.

                “Hey motorku dimana? Terima kasih sudah menyelamatkanku, tapi aku punya tugas yang belum kuselesaikan” Jack bangkit, dia sama sekali tidak merasakan nyeri di tubuh karena kecelakaan, hanya tangan kanannya. Kenapa ya?

                “Motormu di depan, ini kuncimu” Kotak memberikan kunci motor itu pada Jack.

                “Kau orang yang baik, Tak. Senang bertemu denganmu”

                “Jangan panggil Tak, aku tidak botak” Jack keluar dari gubuk itu, menemukan motornya di luar samping pintu. Pantas saja dia tidak bisa melihat motornya dari dalam.

                Di motor itu pun tidak ada lecet apa pun. Jack benar-benar heran. Dia merasa kecelakaan itu harusnya bisa menghasilkan lecet pada motornya. Dia hanya menemukan sebuah stiker sayap di belakangnya. Mungkin Kotak yang menambahkannya.

                “Baiklah, saatnya berangkat. Terima kasih Tak, Assalamualaikum!”

                Kotak muncul dari pintu itu. “Jangan panggil Tak, Aku tidak botak. Waalaikumussalam”

                “Yak kiri…. Prit” Muncul seseorang menyentuh motor Jack, sebelum Jack menyalakan motornya.

                Jack kebingungan “Apa ini? Tukang Parkir?” Orang itu menarik Jok belakang motor Jack. Jack hanya pasrah, dia mengeluarkan uang dari sakunya. Sepuluh Ribu diberikan ke tukang parkir itu.

                “Bentar ya mas” Dia merogoh sakunya mencari uang kembalian.

                Sembari itu ia bertanya ke Jack “Kartu membernya ada?”

                “Gak ada” Jack menggeleng

                “Mau daftar jadi member?”

                “Nggak”

                “Pulsanya sekalian?” Buset, ini tukang parkir atau indomaret.

                “Ini parkir 2 kali gratis satu kali”

                “Minyak gorengnya lagi promo mas”

                “Nggak beli rokoknya mas?”

                “NGGAK, BURUAN!” Tukang Parkir itu memberikan kembalian tujuh ribu. Jack langsung menerimanya dan tancap gas.

                “Hey kawan! Standarnya!” Kotak berteriak dari jauh. Jack langsung berhenti mengecek standar motornya. Takut nanti belok malah celaka.

                “Muke lu standar~ Eaaaaa” Kotak kembali tertawa lepas.

                Jack kesal. Dia baik tapi ngeselin. Tapi ya sudahlah, Ia kembali melaju.
**
                Jack bertemu lampu merah. Ia berhenti menunggu. Tiba-tiba seorang wanita bertopeng ski naik di boncengannya motor Jack.

                “Ayo cepat, aku tidak punya waktu lagi” Ia berbisik ke Jack sambil melihat sekitar.

                “Hei siapa kau?” Jack kaget, dia memakai topeng ski. Apakah dia seorang perampok?!

                “Cepat! Atau aku teriak maling disini supaya kau tau akibatnya?”

                “Hey yang lebih terlihat maling itu kau”

                “Jangan mencoba mengancamku! Ayo jalan!” Wanita bertopeng itu mulai kesal.

                “Oey, lampunya masih merah. Dan setidaknya pakailah Helm. Itu akan melindungi kepalamu lebih dari topeng bodoh itu”

                Jack melihat ke depan. Ia terkejut melihat sosok dibalik sebuah tanaman besar di seberang jalan sana. Sosok itu melihat ke arah Jack. Ia mengenakan vest berwarna hijau, memakai topi. Yap, sosok ini adalah Polisi. Dan dia sedang menatap ke arah Jack, bagaikan macan mengawasi mangsanya.

                Jack menelan ludah “H….Hey wanita bertopeng, turun atau p…Pakailah helm” Jack mulai gugup.

                “Aku tidak punya helm, jadi jangan memaksaku”

                Jack tidak bawa 2 Helm, karena Tipa punya helm favorit yang selalu ia bawa kemanapun, ke sekolah atau jalan-jalan. Jadi, Jack hanya membawa satu helm yang dipakai di kepalanya.

                “Kalau begitu k…..kau harus turun. A….Aku punya orang yang harus kubonceng nanti”

                “kalau begitu satu motor bertiga” Wanita ini benar-benar memaksa.

                Polisi disana mulai melangkah!! Dia menyebrangi jalan. Persis menuju ke arah Jack.

                “Ta…Tapi bokongnya agak lebar, jadi kau…kau tak akan muat”

                Polisi itu sudah dekat.

                “Baiklah” Wanita itu menghela “Bumi ini akan hancur. Sebuah inti senjata terkuat sudah ada hampir di tangan orang yang salah. Aku harus segera pergi dari sini ke kota lain menemui temanku untuk membantuku mencegah inti senjata itu sampai tujuannya. Dan kaulah yang akan menjadi pahlawan yang mengantarku kepada temanku”

                “Senjata macam apa yang kau maksud?!”

                “namanya inti ST. ini adalah sebuah minuman suplemen legendaris yang mampu memberikan kekuatan luar biasa pada peminumnya. Kita harus bergegas”

                Polisi itu tiba-tiba tersandung lalu terjatuh di tengah jalan. Tali sepatunya terlepas. Ia harus membenarkannya dahulu. Jack punya waktu, dia begitu penasaran dengan cerita wanita bertopeng.

                “ST? maksudmu Es Teh?! Hey aku suka es teh!” Wajah Jack berubah senang.

                “yah begitulah orang planet ini menyebutnya”

                “apa? Ja…jadi kau….”

                “Kau melaju, akan kubelikan es teh untukmu”

                “heh! Baiklah, mungkin nona Tipa bisa sedikit menunggu” Jack tancap gas, lampu sudah menunjukkan lampu hijau.

                Motor Jack melewati polisi itu. Polisi menatap sinis mengikuti motor Jack. Masih membetulkan tali sepatunya. Ia mengangkat HT-nya.

                “Rusa 12, tolong hentikan motor (membaca plat nomor motor Jack). Aku ulangi, Rusa 12 kejar motor itu!!”
**