Beberapa
waktu yang lalu…
Seorang lelaki bertopeng itu sedang
mencuci baju di ember. Kucekan tangannya sangat mantap, kotoran-kotoran di baju
menghilang karena kekuatannya. Keringat mengucur di tangannya, pertanda bahwa
kegiatan ini memerlukan kekuatan yang cukup banyak.
Cuaca waktu itu terlihat mendung.
Tetapi lelaki bertopeng itu tampak tidak peduli. Dia terus melanjutkan
cuciannya. Di belakangnya nampak juga seorang lelaki berkacamata hitam duduk di
sebuah kursi. Dia tengah sibuk membaca koran hari ini.
Telepon genggam di samping lelaki
berkacamata itu berrdering. Terdengar lagu Lingsir Wengi. Suasana jadi seram.
Suara sinden “Lingsir wengi~” menggema.
Lelaki berkacamata terdiam melihat
layar telepon genggam. Siapakah gerangan yang menelepon di saat-saat santainya.
Di hape itu tertulis Boss Huba-Huba. Lelaki itu terkejut dan terjatuh
dari kursinya. Lalu segera berdiri seraya berteriak “AAAAAA!!!” sambil memegang
dan melotot pada hapenya.
Ia langsung berlari ke kamar mandi.
Dengan sekejap ia mandi masih sambil memelototi hape ditangannya, masih
berteriak dan hape itu masih berdering.
Selesai mandi ia langsung ke kamar
mengganti baju, masih sambil memelototi hape di tangannya, masih berteriak dan hape
itu masih berdering.
Ia memakai pomade dan menyisir
rambutnya, masih sambil memelototi hape di tangannya, masih berteriak dan hape
itu masih berdering.
“Halo bos” Lelaki itu menjawab
dengan tenang.
“Pesan mie ayam kampung, daun
bawangnya dipisah. Kalo bisa tambahin kuah ya! Ga pake lama!” suara disana
mejawab dengan tiba-tiba.
“Maaf bos, ini Charlie. Bukan Mie
Ayam Pak Sholikin”
“Aah… lagi-lagi. Maaf Charlie. Oh iya
tapi aku punya tugas untukmu” Sudah 3x Bos Huba-Huba salah menelepon.
“Siap bos, apa yang tidak buat bos”
Charlie menggoda dengan kaku. Ia sangat menghormati bosnya itu.
“Segera kirimkan Inti ST ke
tempatku. Kurasa ketika kutunda-tunda dan menyimpan di tempatmu itu mulai tidak
aman. Aku khawatir akan datang lagi pencuri-pencuri yang ingin mengambil Inti
ST dariku”
“Tapi bos, jika aku meninggalkan
tempat ini. Maka markas depan ini tidak ada yang menjaga” Charlie sedikit kaget
dengan keputusan bosnya.
“Kau tidak perlu menyusahkan dirimu
pergi jauh ke sini. Gunakan paket JRE biasa, jangan via JRE paket Kilat Aman Sejahtera
ya! Aku tidak punya uang banyak, tapi aku sudah tidak sabar menikmati Inti ST setelah
sekian lama menunda untuk meminumnya” Bos Huba-Huba senang.
“Baik kalau begitu bos, notanya
saya kirimkan via whatsapp ya bos”
“Dan jangan lupa!! Jaga pencuri
itu, akan kubantai dengan tanganku sendiri orang yang berani mencuri Inti ST
dariku!!”
“Dia akan menyesali perbuatannya di
saat-saat terakhir hidupnya, Bos. Dia akan kujaga dengan segenap jiwaku demi
Bos” Jawab Charlie sigap.
“Ahahahah! Kau anak buah yang baik,
Charlie” Ia tertawa keras. Suara tawanya mirip orang tua, meskipun sebenarnya
Bos Huba-Huba masih muda.
“ah… Bos bisa aja, tapi setidaknya
tolong naikkan gajiku bo-“ Teleponnya ditutup. Sepertinya Bos Huba-Huba tidak
mendengar permintaan Charlie. Kasihan sekali Charlie.
Charlie meletakkan hapenya kembali.
Lalu ia kembali ke dalam. Masuk ke sebuah ruangan. Disana ada sebuah pintu
ruangan lagi. Charlie berdiri di depan pintu itu. Ia berbicara pada seseorang
di balik pintu itu. Seseorang di dalam ruangan gelap itu.
“Kau akan tahu akibatnya mencuri
Inti ST dari Bos Huba-Huba! Nikmati penyesalanmu di akhir hidupmu ini, pencuri!
heh”
Wanita di ruangan gelap itu hanya
duduk diam. Mukanya serius. Rencana pencuriannya mungkin memang gagal. Tapi
jangan sampai dirinya juga terancam mati. Ia harus pergi dari tempat ini. Ia
harus mencari bantuan. Seseorang yang mampu membantunya mengambil Inti ST dari
Bos Huba-Huba yang tamak, licik, dan tidak suka menabung itu.
Aku masih punya rencana!
“Hei kacamata hitam!” Panggilan itu
membuat Charlie kembali menoleh ke pintu itu.
“Aku punya tebakan untukmu,
Kacamata Hitam!” Wanita itu menantang.
“A-aku tidak punya waktu, pencuri”
Charlie agak gugup. Ia punya trauma tentang tebakan ketika di zaman SD. Charlie
tidak suka tebakan.
“Ayam, ayam apa yang bisa dance
Heavy Rotation?!”
DEG!!
Charlie memang ngefans dengan
JKT48, tapi ia tidak tahu tebakan ini!!
APA INI? APA INI? APA INI?
PERTANYAAN MACAM APA INI?! KENAPA AKU TIDAK TAHU?! SIAAAALL!!
“A-aku… aku tidak-“ Charlie
terbata, gugup dengan tebakan itu.
“hah, kukira kau ngefans dengan
JKT48…”
Charlie terkejut. Dia fans JKT48.
Ia berkata dalam hati “kenapa aku tidak tahu?!”
“Kalau kau memang fans, harusnya
kau tau jawaban dari tebakan tadi” Wanita itu terus memojokkan Charlie.
Charlie jatuh berlutut, ia
kebingungan, ia mengacak-ngacak rambutnya. Tidak ingin didengar orang lain, dia
kebingungan dalam diam. Resah.
“A-aku…” Charlie masih berusaha
mengacak-ngacak mencari sekeping informasi tentang JKT48 di otaknya. Tapi ia
tak menemukannya. Wanita itu masih menunggu jawaban Charlie.
“Aku menyeraaaaah!!!” akhirnya, dengan
wajah penyesalan tingkat tinggi, ia tertunduk di depan pintu.
“AKU TIDAK TAHU JAWABANNYAAA!!”
Charlie berlinang airmata. Dia juga menggedor pintu itu. Keras. Ia menggedor
pintu itu berkali-kali.
Tiba-tiba gedoran pintu itu
berhenti. Wanita itu mengira Charlie pergi ke warnet untuk mencari jawaban dari
tebakannya.
“Beritahu aku” Suara Charlie pelan.
“Beritahu aku, beritahu aku”
Suaranya mulai naik.
“Beritahu aku, beritahu aku,
beritahu aku, beritahu aku, beritahu aku” Charlie menaikkan suaranya bahkan
terkesan berteriak. Ia marah. Benar-benar marah! Wajahnya serius marah.
“BERITAHU AKUUUUU!!!!
AAAARRGHGHH!!!” Charlie berteriak, segera ia mengambil kunci di sakunya dan
membuka pintu itu.
Pintu itu terbuka dan menghantam
dinding dengan keras. BRAKK! “BERTAHU AKU, PENCURIIII!!!!” Charlie langsung
berteriak.
Tapi wanita itu sudah berada di
depan Charlie dengan cepat. Tangannya tergenggam meluncur meninju perut
Charlie.
“JAWABANNYA ITU AYAMAAA!!!” Wanita
itu berteriak sambil meninju perut Charlie.
Charlie merasakan tinju itu
mendarat di perutnya dengan keras. Pukulan mantap itu membuatnya terkejut. “Ayama?”
Charlie tidak menyangka jawaban itu. Dia kebingungan.
Charlie terpental dan menabrak
dinding di belakangnya. Darah keluar dari mulutnya. “Ahk!” Akhirnya dia
terjatuh dan terduduk lemas. Pukulan itu benar-benar membuatnya lemah.
Dengan mata sayup dan buram karena
pukulan itu, ia melihat wanita itu berdiri di depannya dengan tegap.
Ah!
Charlie baru sadar. Jawaban
seharusnya itu AYANA bukan AYAMA!
Wanita itu berlari menjauh. Ia
kabur. Tangan Charlie berusaha menangkap sosok wanita itu yang sudah menjauh
menuju pintu keluar.
“H-harusnya itu… A… Ayana” Charlie
tak sanggup berbicara lagi. Ia pingsan.
**