Bagian Keempat

            Beberapa waktu yang lalu…

Seorang lelaki bertopeng itu sedang mencuci baju di ember. Kucekan tangannya sangat mantap, kotoran-kotoran di baju menghilang karena kekuatannya. Keringat mengucur di tangannya, pertanda bahwa kegiatan ini memerlukan kekuatan yang cukup banyak.


Cuaca waktu itu terlihat mendung. Tetapi lelaki bertopeng itu tampak tidak peduli. Dia terus melanjutkan cuciannya. Di belakangnya nampak juga seorang lelaki berkacamata hitam duduk di sebuah kursi. Dia tengah sibuk membaca koran hari ini.

Telepon genggam di samping lelaki berkacamata itu berrdering. Terdengar lagu Lingsir Wengi. Suasana jadi seram. Suara sinden “Lingsir wengi~” menggema.

Lelaki berkacamata terdiam melihat layar telepon genggam. Siapakah gerangan yang menelepon di saat-saat santainya. Di hape itu tertulis Boss Huba-Huba. Lelaki itu terkejut dan terjatuh dari kursinya. Lalu segera berdiri seraya berteriak “AAAAAA!!!” sambil memegang dan melotot pada hapenya.

Ia langsung berlari ke kamar mandi. Dengan sekejap ia mandi masih sambil memelototi hape ditangannya, masih berteriak dan hape itu masih berdering.

Selesai mandi ia langsung ke kamar mengganti baju, masih sambil memelototi hape di tangannya, masih berteriak dan hape itu masih berdering.

Ia memakai pomade dan menyisir rambutnya, masih sambil memelototi hape di tangannya, masih berteriak dan hape itu masih berdering.

“Halo bos” Lelaki itu menjawab dengan tenang.

“Pesan mie ayam kampung, daun bawangnya dipisah. Kalo bisa tambahin kuah ya! Ga pake lama!” suara disana mejawab dengan tiba-tiba.

“Maaf bos, ini Charlie. Bukan Mie Ayam Pak Sholikin”

“Aah… lagi-lagi. Maaf Charlie. Oh iya tapi aku punya tugas untukmu” Sudah 3x Bos Huba-Huba salah menelepon.

“Siap bos, apa yang tidak buat bos” Charlie menggoda dengan kaku. Ia sangat menghormati bosnya itu.

“Segera kirimkan Inti ST ke tempatku. Kurasa ketika kutunda-tunda dan menyimpan di tempatmu itu mulai tidak aman. Aku khawatir akan datang lagi pencuri-pencuri yang ingin mengambil Inti ST dariku”

“Tapi bos, jika aku meninggalkan tempat ini. Maka markas depan ini tidak ada yang menjaga” Charlie sedikit kaget dengan keputusan bosnya.

“Kau tidak perlu menyusahkan dirimu pergi jauh ke sini. Gunakan paket JRE biasa, jangan via JRE paket Kilat Aman Sejahtera ya! Aku tidak punya uang banyak, tapi aku sudah tidak sabar menikmati Inti ST setelah sekian lama menunda untuk meminumnya” Bos Huba-Huba senang.

“Baik kalau begitu bos, notanya saya kirimkan via whatsapp ya bos”

“Dan jangan lupa!! Jaga pencuri itu, akan kubantai dengan tanganku sendiri orang yang berani mencuri Inti ST dariku!!”

“Dia akan menyesali perbuatannya di saat-saat terakhir hidupnya, Bos. Dia akan kujaga dengan segenap jiwaku demi Bos” Jawab Charlie sigap.

“Ahahahah! Kau anak buah yang baik, Charlie” Ia tertawa keras. Suara tawanya mirip orang tua, meskipun sebenarnya Bos Huba-Huba masih muda.

“ah… Bos bisa aja, tapi setidaknya tolong naikkan gajiku bo-“ Teleponnya ditutup. Sepertinya Bos Huba-Huba tidak mendengar permintaan Charlie. Kasihan sekali Charlie.

Charlie meletakkan hapenya kembali. Lalu ia kembali ke dalam. Masuk ke sebuah ruangan. Disana ada sebuah pintu ruangan lagi. Charlie berdiri di depan pintu itu. Ia berbicara pada seseorang di balik pintu itu. Seseorang di dalam ruangan gelap itu.

“Kau akan tahu akibatnya mencuri Inti ST dari Bos Huba-Huba! Nikmati penyesalanmu di akhir hidupmu ini, pencuri! heh”

Wanita di ruangan gelap itu hanya duduk diam. Mukanya serius. Rencana pencuriannya mungkin memang gagal. Tapi jangan sampai dirinya juga terancam mati. Ia harus pergi dari tempat ini. Ia harus mencari bantuan. Seseorang yang mampu membantunya mengambil Inti ST dari Bos Huba-Huba yang tamak, licik, dan tidak suka menabung itu.

Aku masih punya rencana!

“Hei kacamata hitam!” Panggilan itu membuat Charlie kembali menoleh ke pintu itu.

“Aku punya tebakan untukmu, Kacamata Hitam!” Wanita itu menantang.

“A-aku tidak punya waktu, pencuri” Charlie agak gugup. Ia punya trauma tentang tebakan ketika di zaman SD. Charlie tidak suka tebakan.

“Ayam, ayam apa yang bisa dance Heavy Rotation?!”

DEG!!

Charlie memang ngefans dengan JKT48, tapi ia tidak tahu tebakan ini!!

APA INI? APA INI? APA INI? PERTANYAAN MACAM APA INI?! KENAPA AKU TIDAK TAHU?! SIAAAALL!!

“A-aku… aku tidak-“ Charlie terbata, gugup dengan tebakan itu.

“hah, kukira kau ngefans dengan JKT48…”

Charlie terkejut. Dia fans JKT48. Ia berkata dalam hati “kenapa aku tidak tahu?!

“Kalau kau memang fans, harusnya kau tau jawaban dari tebakan tadi” Wanita itu terus memojokkan Charlie.

Charlie jatuh berlutut, ia kebingungan, ia mengacak-ngacak rambutnya. Tidak ingin didengar orang lain, dia kebingungan dalam diam. Resah.

“A-aku…” Charlie masih berusaha mengacak-ngacak mencari sekeping informasi tentang JKT48 di otaknya. Tapi ia tak menemukannya. Wanita itu masih menunggu jawaban  Charlie.

“Aku menyeraaaaah!!!” akhirnya, dengan wajah penyesalan tingkat tinggi, ia tertunduk di depan pintu.

“AKU TIDAK TAHU JAWABANNYAAA!!” Charlie berlinang airmata. Dia juga menggedor pintu itu. Keras. Ia menggedor pintu itu berkali-kali.

Tiba-tiba gedoran pintu itu berhenti. Wanita itu mengira Charlie pergi ke warnet untuk mencari jawaban dari tebakannya.

“Beritahu aku” Suara Charlie pelan.

“Beritahu aku, beritahu aku” Suaranya mulai naik.

“Beritahu aku, beritahu aku, beritahu aku, beritahu aku, beritahu aku” Charlie menaikkan suaranya bahkan terkesan berteriak. Ia marah. Benar-benar marah! Wajahnya serius marah.

“BERITAHU AKUUUUU!!!! AAAARRGHGHH!!!” Charlie berteriak, segera ia mengambil kunci di sakunya dan membuka pintu itu.

Pintu itu terbuka dan menghantam dinding dengan keras. BRAKK! “BERTAHU AKU, PENCURIIII!!!!” Charlie langsung berteriak.

Tapi wanita itu sudah berada di depan Charlie dengan cepat. Tangannya tergenggam meluncur meninju perut Charlie.

“JAWABANNYA ITU AYAMAAA!!!” Wanita itu berteriak sambil meninju perut Charlie.

Charlie merasakan tinju itu mendarat di perutnya dengan keras. Pukulan mantap itu membuatnya terkejut. “Ayama?” Charlie tidak menyangka jawaban itu. Dia kebingungan.

Charlie terpental dan menabrak dinding di belakangnya. Darah keluar dari mulutnya. “Ahk!” Akhirnya dia terjatuh dan terduduk lemas. Pukulan itu benar-benar membuatnya lemah.

Dengan mata sayup dan buram karena pukulan itu, ia melihat wanita itu berdiri di depannya dengan tegap.

Ah!

Charlie baru sadar. Jawaban seharusnya itu AYANA bukan AYAMA!

Wanita itu berlari menjauh. Ia kabur. Tangan Charlie berusaha menangkap sosok wanita itu yang sudah menjauh menuju pintu keluar.

“H-harusnya itu… A… Ayana” Charlie tak sanggup berbicara lagi. Ia pingsan.

**