Bagian Ketiga

                Desa Lelep adalah salah satu desa yang harus dilalui Jack untuk menuju SMA-nya Tipa. Sebelum Jack melewati desa itu. Ada sebuah adegan di desa itu yang harus kalian ketahui. Jadi begini…

                Ibu-ibu sedang membeli sayur di tukang sayuran di sore itu. Entah kenapa ada tukang sayur sore-sore. Memang terkadang dunia ini aneh, tapi ibu-ibu ini giat berbelanja demi kebahagiaan anak dan suaminya di makan malam nanti. Sungguh mulia niat ibu-ibu ini. Marilah kita contoh kepedulian terhadap keluarga seperti yang dilakukan ibu-ibu ini. Yap, ini mulai terdengar seperti dongeng anak.

                Salah satu ibu-ibu itu memulai percakapan di gerobak abang sayur.

                “Eh tau gak mbak, kalo katanya Bu Wulia kentutnya ga bau”

                “Masa sih, Jeng. Kemarin aja pas di warung Bu Haji ketemu dia saya kayak ngecium bau telur goreng dadar yang ada tepungnya. Hiii….” salah satu ibu yang lain menimpali.

                “Aiiihh~ padahal harga telur kan mahal sekarang, Mbokdhe. Kemarin aja ya, ayam saya ngeden seharian cuma keluar sebutir doang. Gimana gak mahal kan? Ampun deh, pemerintah gimana sih ga perhatian ama sistem perayaman Indonesia” kita lihat sekarang pembicaraan sudah berbelok jauh, pemirsa.

                “kayak ayam saya dong, kemarin abis ngeluarin telur langsung telur dadar, jadi ga usah repot kan pake masak segala” Dan disini kita lihat ada ibu-ibu sombong.

                Di belakang ternyata ada Pak Ustad lewat. Beliau memakai baju gamis dan peci sambil membawa tasbih dan mikrofon.

                Sambil berbicara lewat mikrofon, Pak Ustad menasihati “Astaghfirullah ibu-ibu, tidak baik membicarakan keburukan orang lain. Lebih baik kita membicarakan sesuatu yang baik-baik saja, misalkan bisnis atau apa gitu”

                “Tidak bisa gitu Pak Ustad, Bu Wulia harus diusir dari kampung ini. Karena dia sudah meresahkan banyak warga!” Ibu yang mengeluhkan tentang bau kentut mulai memprovokasi.

                “Iya benar!!” ternyata ibu-ibu lain menyahut, padahal mereka tidak tau apa-apa.

                “Ayo sekarang kita ke rumahnya!!” keadaan semakin memanas dan tidak jelas. Ibu-ibu itu sudah bergerak. Pak Ustad tidak punya kekuatan untuk menghentikan gerombolan ibu-ibu itu.

                “ibu!! Bayar dulu buu!!” tukang sayur terkejut ibu-ibu itu hanya pergi supaya gak membayar sayur. Tukang sayur terduduk dan menangis. “Astaghfirullah… kenapa hal ini sering terjadi padaku…”

                Pak Ustad duduk disamping Tukang Sayur, sambil berbicara lewat mikrofon, Pak Ustad berkata “Yang sabar, Udin. Kita seharusnya senantiasa tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memintalah pertolongan pada Allah, Udin. Niscaya, kamu akan mendapat bantuan dan hidupmu lebih indah”

                “Tapi Pak Ustad….” Tukang Sayur menangis mendengar perkataan Pak Ustad.

                “Pasti di balik semua ini ada hikmahnya, Udin. Atau mungkin ini sebagai peringatan, bahwa kau mulai melupakan Allah, Udin. Kembalilah pada-Nya, Udin”

                “Tapi Pak Ustad, namaku bukan Udin. Aku Welyam”

**

                Jack sedang asik mengendarai motornya. Dia mulai masuk ke desa Lelep. Tapi hape Jack berbunyi. Sepertinya itu panggilan yang penting. Jack harus mengangkatnya, tapi Jack tidak bisa berhenti karena waktu sudah mepet untuk menjemput Tipa. Terpaksa Jack mengangkat telepon sambil berkendara. Padahal hal ini telah dilarang oleh Undang-Undang Republik Indonesia tentang pemakaian handphone saat berkendara.

                “Ah disini juga tidak ada Polisi. Kalau ada polisi pun, aku minta sekalian nomor hapenya buat nelpon dia, gue mah gitu orangnya”

                “Halo?”

                “Jack….” Suara di seberang sana terdengar serak.

                “Siapa ini?” Jack tidak mengenali nomor itu dan juga suara itu.

                “Berhati-hatilah Jack, karena kau akan celaka hari ini” Suaranya serius, tapi Jack tidak percaya.

                “Apa maksudmu?! Siapa kau?!”

                “Siapa aku itu tidak penting, yang penting adalah nyawamu. Seharusnya kau tidak menelepon saat berkendara. Kalau ada Polisi bisa gawat, Jack!”

                “Hei kau yang meneleponku! Kenapa kau malah-“ Jack terkejut ada seorang ibu yang menyeberang jalan di depan sana.

                Jaraknya memang masih 100 meter, ibu itu sudah berteriak ketakutan “AAAA!!!!!”

                Begitu juga Jack juga ketakutan “KYAAAA!!!” Jack sudah menghiraukan telepon itu. Semua sudah terlambat, adegan berteriak sudah dimulai.

                Jack membelokkan motor menghindari ibu-ibu itu, ketika di badan jalan Jack mengerem, tapi Jack kembali terkejut ada sebuah gelas aqua kosong yang keluar dari dalam mesinnya.

                “oh tidak!! Gelas aqua itu akan jatuh!!” Seketika Jack lupa mengerem dan menabrak tiang listrik. Ibu-ibu itu masih berteriak sambil memperhatikan Jack menabrak tiang itu. Kemudian pingsan juga.

                Keduanya terkapar di jalanan itu. Sepi. Belum ada yang menolong.


                Seseorang, tolong mereka!