Desa
Lelep adalah salah satu desa yang harus dilalui Jack untuk menuju SMA-nya Tipa.
Sebelum Jack melewati desa itu. Ada sebuah adegan di desa itu yang harus kalian
ketahui. Jadi begini…
Ibu-ibu sedang membeli sayur di tukang sayuran di sore itu. Entah kenapa ada tukang sayur sore-sore. Memang terkadang dunia ini aneh, tapi ibu-ibu ini giat berbelanja demi kebahagiaan anak dan suaminya di makan malam nanti. Sungguh mulia niat ibu-ibu ini. Marilah kita contoh kepedulian terhadap keluarga seperti yang dilakukan ibu-ibu ini. Yap, ini mulai terdengar seperti dongeng anak.
Salah
satu ibu-ibu itu memulai percakapan di gerobak abang sayur.
“Eh tau
gak mbak, kalo katanya Bu Wulia kentutnya ga bau”
“Masa
sih, Jeng. Kemarin aja pas di warung Bu Haji ketemu dia saya kayak ngecium bau
telur goreng dadar yang ada tepungnya. Hiii….” salah satu ibu yang lain
menimpali.
“Aiiihh~
padahal harga telur kan mahal sekarang, Mbokdhe. Kemarin aja ya, ayam saya
ngeden seharian cuma keluar sebutir doang. Gimana gak mahal kan? Ampun deh,
pemerintah gimana sih ga perhatian ama sistem perayaman Indonesia” kita lihat
sekarang pembicaraan sudah berbelok jauh, pemirsa.
“kayak
ayam saya dong, kemarin abis ngeluarin telur langsung telur dadar, jadi ga usah
repot kan pake masak segala” Dan disini kita lihat ada ibu-ibu sombong.
Di
belakang ternyata ada Pak Ustad lewat. Beliau memakai baju gamis dan peci sambil
membawa tasbih dan mikrofon.
Sambil
berbicara lewat mikrofon, Pak Ustad menasihati “Astaghfirullah ibu-ibu, tidak
baik membicarakan keburukan orang lain. Lebih baik kita membicarakan sesuatu
yang baik-baik saja, misalkan bisnis atau apa gitu”
“Tidak
bisa gitu Pak Ustad, Bu Wulia harus diusir dari kampung ini. Karena dia sudah
meresahkan banyak warga!” Ibu yang mengeluhkan tentang bau kentut mulai
memprovokasi.
“Iya benar!!”
ternyata ibu-ibu lain menyahut, padahal mereka tidak tau apa-apa.
“Ayo
sekarang kita ke rumahnya!!” keadaan semakin memanas dan tidak jelas. Ibu-ibu
itu sudah bergerak. Pak Ustad tidak punya kekuatan untuk menghentikan
gerombolan ibu-ibu itu.
“ibu!! Bayar
dulu buu!!” tukang sayur terkejut ibu-ibu itu hanya pergi supaya gak membayar
sayur. Tukang sayur terduduk dan menangis. “Astaghfirullah… kenapa hal ini
sering terjadi padaku…”
Pak
Ustad duduk disamping Tukang Sayur, sambil berbicara lewat mikrofon, Pak Ustad
berkata “Yang sabar, Udin. Kita seharusnya senantiasa tawakal kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Memintalah pertolongan pada Allah, Udin. Niscaya, kamu
akan mendapat bantuan dan hidupmu lebih indah”
“Tapi
Pak Ustad….” Tukang Sayur menangis mendengar perkataan Pak Ustad.
“Pasti
di balik semua ini ada hikmahnya, Udin. Atau mungkin ini sebagai peringatan,
bahwa kau mulai melupakan Allah, Udin. Kembalilah pada-Nya, Udin”
“Tapi
Pak Ustad, namaku bukan Udin. Aku Welyam”
**
Jack
sedang asik mengendarai motornya. Dia mulai masuk ke desa Lelep. Tapi hape Jack
berbunyi. Sepertinya itu panggilan yang penting. Jack harus mengangkatnya, tapi
Jack tidak bisa berhenti karena waktu sudah mepet untuk menjemput Tipa.
Terpaksa Jack mengangkat telepon sambil berkendara. Padahal hal ini telah
dilarang oleh Undang-Undang Republik Indonesia tentang pemakaian handphone saat
berkendara.
“Ah
disini juga tidak ada Polisi. Kalau ada polisi pun, aku minta sekalian nomor
hapenya buat nelpon dia, gue mah gitu orangnya”
“Halo?”
“Jack….”
Suara di seberang sana terdengar serak.
“Siapa
ini?” Jack tidak mengenali nomor itu dan juga suara itu.
“Berhati-hatilah
Jack, karena kau akan celaka hari ini” Suaranya serius, tapi Jack tidak
percaya.
“Apa
maksudmu?! Siapa kau?!”
“Siapa
aku itu tidak penting, yang penting adalah nyawamu. Seharusnya kau tidak
menelepon saat berkendara. Kalau ada Polisi bisa gawat, Jack!”
“Hei
kau yang meneleponku! Kenapa kau malah-“ Jack terkejut ada seorang ibu yang
menyeberang jalan di depan sana.
Jaraknya
memang masih 100 meter, ibu itu sudah berteriak ketakutan “AAAA!!!!!”
Begitu
juga Jack juga ketakutan “KYAAAA!!!” Jack sudah menghiraukan telepon itu. Semua
sudah terlambat, adegan berteriak sudah dimulai.
Jack
membelokkan motor menghindari ibu-ibu itu, ketika di badan jalan Jack mengerem,
tapi Jack kembali terkejut ada sebuah gelas aqua kosong yang keluar dari dalam
mesinnya.
“oh
tidak!! Gelas aqua itu akan jatuh!!” Seketika Jack lupa mengerem dan
menabrak tiang listrik. Ibu-ibu itu masih berteriak sambil memperhatikan Jack
menabrak tiang itu. Kemudian pingsan juga.
Keduanya
terkapar di jalanan itu. Sepi. Belum ada yang menolong.
Seseorang,
tolong mereka!