- Kalian adalah Member IOC yang tergabung di Grup Umum atau di Grup Chapter.
- Memiliki ide dan memodifikasi ide lain menjadi lebih baik.
- Mau bertanggung Jawab dengan idenya, sesuai kondisi dan situasi.
- Mau melaksanakan ide tersebut bersama-sama.
- Aktif diskusi grup.
- Diutamakan yang tinggal di jabodetabek.
IOC Developer
Bagian Keenam
Apasih yang kalian rasakan, ketika kalian diberi tugas tapi sebenarnya kalian ga ngeharepin tugas itu? Mungkin karena tugas itu susah atau merepotkan, atau butuh tenaga ekstra, atau menghabiskan banyak waktu, atau mungkin harus berurusan dengan orang yang tidak ingin ditemui.
Dan saat ini Buwi harus menjalankan tugas yang merepotkan. Dia harus mengatur lalu lintas. Ah! Ini merepotkan. Komandan menyuruhnya mengatur lalu lintas di pertigaan ini, yang lampu lalu lintasnya mati.
Belum lagi, ia harus menyusun beberapa laporan kantor cabang yang akan diserahkan ke kantor pusat.
Juga, dia belum mencuci pakaian seragam besok. "HUAAA!!!! Noda apa ini?!" Ia menemukan noda pada baju bagian perut. Nodanya berwarna coklat kehijauan. Kecil. Tapi basahnya menjalar melebar. Seperti kotoran sapi. Tapi apa yang dilakukan sapi di seragam Buwi. "Aku akan mencucinya besok" itu yang dikatakannya seminggu yang lalu. Dia terlalu menundanya hingga sekarang.
Oh iya! Belum lagi dia harus membenarkan kipas angin kos-kosannya.
Yap dari sekian tugas yang menumpuk itu, akhirnya dia memutuskan sesuatu. Dia harus melakukan sesuatu!
Dia memutuskan untuk... tidur di warkop tepat di pinggir pertigaan yang macet itu.
Karena Tidur sore hari memang nikmat. Mungkim beberapa orang mengira tidur sore bikin gila. Tapi mitos seperti itu tidak berlaku untuk Buwi.
"Pak pol, itu kopinya diminum, ntar lama lama dingin lho" ucap abang warkop ke Buwi.
"Justru itu, kalo saya dingininnya pake es, pasti harganya lebih mahal. Sudah ah, saya mau tidur dulu!" Buwi sudah ancang2 tidur di meja warkop.
"Tapi pak, jalanan macetnya kenapa ga diatur pak, kasihan orang2" Abang Warkop menatap jauh, ke orang2 yang kena macet sore itu. Para pengendara motor yang berkeringat, Pengendara mobil yang marah marah, Knek bus yang nagih uang ke penumpang tapi penumpangnya minta diskon mulu, Pilot yang salah ambil jalur dan harus putar balik ke bandara. Semua ini, harus diselesaikan!
Abang Warkop akhirnya punya tekad. Ia mengambil stik yang bisa menyala itu dari Pak Buwi yang tidur dan menghiraukannya, lalu berjalan menuju jalanan macet itu.
Sedikit demi sedikit ia atur lalu lintasnya sedemikian rupa sehingga lancar kembali.
"Apakah ini.... Bakat sejatiku?" Abang Warkop menatap stik yang bisa menyala itu sambil bergetar. Menyadari bahwa sesungguhnya ia punya kemampuan.
Buwi terbangun, melihat jalanan yang macet tadi tiba tiba sekejap jadi lancar!
Mata Buwi berkaca kaca, ia tidak menyangka Abang Warkop yang selama ini ia beli kopi selalu hutang, mau membantu tugas Buwi yang berat itu.
"Abang Warkop kau memang hebat" Buwi terduduk sambil menutup mukanya.
Ia tak mau memperlihatkan wajahnya yang menangis di hadapan orang banyak.
Tak bisa dihindari, tangis Buwi jatuh ke tanah.
Abang Warkop disana juga terharu akan kemampuannya.
Tapi itu tidak lama, Abang Warkop lengah!
Jalanan adalah tempat yang kejam! Apalagi di sore hari saat jam pulang kantor. Dalam sekejap pula, Jalanan kembali macet!!
Argh! Kali ini lebih kejam! Jalanan kembali menguji kemampuan Abang Warkop.
Buwi di seberang hanya menatap Abang Warkop yang gigih mengatur jalan.
"Abang... Semoga kau berhasil!"
Saat itu juga, sebuah motor yang melaju sangat kencang meliuk liuk di antara sela2 kemacetan. Motor itu tak mengurangi kecepatannya sedikit pun.
Ke kiri ke kanan, bahkan melewati kolong mobil. Melompati pejalan kaki.
Abang Warkop tidak melihat motor itu datang.
"ABAAAAANG!!! AWAAAASSS SEBELAH---"
Buwi tidak tahu motor yang melesat itu dari arah apanya Abang Warkop, keadaan disana terlalu macet!
Terlambat...
Motor menerobos dan menyerempet Abang Warkop.
"TIDAAAAAAKKK!!!!"
Buwi berlari menangkap tubuh Abang Warkop yang terjatuh ke tanah.
"Abang! Bertahanlah! Katakan sesuatu!" Buwi mengguncang tubuh Abang Warkop.
"Be...ber...ber..henti meng..guncang...ku" tangan abang warkop menampar wajah Buwi.
"Ah maafkan aku, katakan sesuatu, kawan" Buwi mulai menitikkan air matanya. Air matanya jatuh ke wajah Abang Warkop dan ke mulutnya.
"Uhuk uhuk!!" Abang Warkop terbatuk.
"Abang Warkooop!" Buwi kaget melihat Abang Warkop terbatuk, ia takut melihat darah ketika batuk.
"Air...matanya...asem.." Kemudian abang warkop terbatuk lagi.
"Pak pol..." Abang Warkop berkata lirih.
"I, iyaa!" Buwi menjawab pelan sambil terisak.
"Ba...bayarlah hu..huta--"
"TIDAAAAAAAAKKKKKKK" Buwi langsung berteriak ke atas. Kemudian kembali menangis.
Saat itu, Abang Warkop kehilangan kesadarannya.
Buwi berdiri, kemudian HTnya berbunyi
“Rusa 12, tolong hentikan motor (membaca plat nomor motor Jack). Aku ulangi, Rusa 12 kejar motor itu!!”
Buwi segera menjawab "kau tak perlu melapor, aku juga akan mengejarnya!"
**